Selatan Taman Fatahillah, di antara deru sepeda ontel wisata dan jepretan kamera turis, berdiri sebuah gedung tua bercat krem dengan kubah kecil di puncaknya. Bangunan ini tidak pernah benar-benar berhenti bekerja sejak abad ke-18 — ia hanya berganti peran. Pernah menjadi balai kota, kantor administrasi VOC, kantor gubernur, bahkan markas militer, sebelum akhirnya menetap sebagai Museum Fatahillah, yang secara resmi bernama Museum Sejarah Jakarta.

Nama "Fatahillah" sendiri bukan nama arsitek atau gubernur jenderal yang membangunnya, melainkan nama seorang panglima abad ke-16 yang tidak pernah menginjakkan kaki di gedung ini. Di situlah letak ironi pertama dari museum ini: sebuah bangunan kolonial yang dirancang untuk merepresentasikan kekuasaan Belanda, kini dinamai dari peristiwa yang justru mengakhiri kekuasaan asing sebelumnya — penaklukan pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis pada 22 Juni 1527, tanggal yang hingga kini diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Dari Balai Kota Sederhana ke Istana Mini Amsterdam

Sejarah bangunan ini jauh lebih panjang daripada usia museumnya. Balai kota pertama di lokasi ini selesai dibangun pada 1627, hanya tujuh tahun setelah VOC mendirikan Batavia di atas puing Jayakarta yang telah ditaklukkan Fatahillah hampir satu abad sebelumnya. Bangunan itu diperluas pada 1649, namun gedung yang kita kenal hari ini adalah hasil renovasi total yang dimulai pada 1707 dan baru rampung tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck.

Yang menarik, perancangnya tidak sekadar meniru gaya kolonial generik. Stadhuis Batavia — nama resminya saat itu — dirancang dengan mengacu pada Paleis op de Dam, istana balai kota di jantung Amsterdam, lengkap dengan kubah (cupola) yang menjadi mahkota bangunan serta proporsi khas balai kota Belanda abad ke-17. Di dalamnya terdapat 37 ruangan dengan balok kayu raksasa yang menopang struktur — sebuah pernyataan arsitektural bahwa Batavia bukan sekadar pos dagang rempah, melainkan replika kekuasaan metropolitan di belahan dunia yang lain.

Lorong Bawah Tanah dan Bayang Pangeran Diponegoro

Di balik kemegahan porticonya, gedung ini menyimpan sisi paling kelam dari sejarah Batavia. Di bawah teras depan terdapat deretan sel tahanan yang berfungsi sebagai penjara bawah tanah hingga tahun 1846. Hukuman mati bagi para terpidana bahkan pernah dilaksanakan secara terbuka di alun-alun di depan gedung ini — yang pada masa itu bernama Stadhuisplein, kini dikenal sebagai Taman Fatahillah.

Salah satu tahanan paling terkenal yang pernah meringkuk di sel-sel itu adalah Pangeran Diponegoro. Setelah ditangkap secara licik pada 1830, sang pangeran sempat ditahan sejenak di gedung ini sebelum akhirnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara. Sel-sel sempit itu menjadi pengingat bahwa kemegahan arsitektur kolonial selalu berdiri berdampingan dengan kekerasan yang menopangnya.

Gedung ini tidak pernah netral. Ia adalah panggung kekuasaan — dan panggung itu, oleh sejarah, kini dibalik untuk menjadi ruang ingatan bersama.

Dari Kantor Gubernur ke Markas Militer

Fungsi Stadhuis sebagai pusat pemerintahan kota berakhir pada 1913, ketika Batavia berkembang ke arah selatan dan kantor-kantor administrasi pindah mengikuti pertumbuhan kota. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini sempat menjadi kantor Gubernur Jawa Barat hingga 1961, sebelum beralih fungsi lagi sebagai markas Komando Distrik Militer (KODIM) 0503 Jakarta Barat.

Titik balik baru datang pada 1970, ketika Gubernur Ali Sadikin menetapkan Taman Fatahillah sebagai kawasan cagar budaya — langkah awal dari upaya panjang menyelamatkan Kota Tua dari ancaman pembongkaran yang saat itu mengintai banyak gedung tua Jakarta. Empat tahun berselang, tepatnya 30 Maret 1974, gedung ini resmi dibuka untuk publik sebagai Museum Sejarah Jakarta: pusat pengumpulan, konservasi, dan penelitian warisan budaya kota.

Museum Fatahillah di Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta
Taman Fatahillah, dahulu bernama Stadhuisplein — alun-alun yang menjadi panggung pemerintahan, pengadilan, sekaligus eksekusi di masa Batavia.
Lihat Referensi Lengkap ↗