Akhir pekan 24–25 Oktober 2026 akan lama dikenang sebagai salah satu akhir pekan tersibuk dan paling membanggakan bagi Jakarta. Di jalan-jalan protokol, sekitar 37.000 pelari dari 48 negara, termasuk lebih dari 1.000 pelari mancanegara, mengikuti MyBCA Jakarta Running Festival (JRF) 2026. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada Sabtu malam, rapper dunia Ye (Kanye West) menggelar satu-satunya konsernya di Asia Tenggara dan Oseania (Kumparan, 25/10/2026; Koran Jakarta, 25/10/2026).
Dua acara yang sangat berbeda, satu lahir dari gaya hidup sehat warga dan satu lagi dari panggung hiburan global, bertemu di kota yang sama pada waktu yang sama. Bagi Jakarta, ini bukan sekadar keramaian. Ini adalah pembuktian bahwa kota ini siap menjalankan peran barunya.
Dari Ibu Kota Menuju Kota Global
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta, yang disahkan pada 25 April 2024, menegaskan peran strategis Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global (Setkab, 2024). Peran itu tidak cukup dideklarasikan, tetapi harus dibuktikan lewat kemampuan kota menarik orang, modal, dan perhatian dunia.
Akhir pekan lalu memberi bukti yang nyata. Promotor mencatat lebih dari 20.000 penonton mancanegara hadir di konser Ye, berdampingan dengan sekitar 30.000 penonton domestik, dengan penggemar yang berasal dari 73 negara (Koran Jakarta, 25/10/2026). Mereka datang terutama dari Australia, Malaysia, dan Singapura (Kumparan, 25/10/2026). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Jakarta mendapatkan kehormatan karena dipilih sebagai satu-satunya persinggahan di kawasan tersebut.
Dua Wajah Ekonomi Event
Kekuatan akhir pekan ini terletak pada perpaduan dua jenis ekonomi event. JRF mewakili ekonomi partisipasi. Pesertanya tumbuh pesat dari 27.300 pelari pada 2025 (Investortrust, 2025) menjadi sekitar 37.000 pada 2026. Half marathon-nya menyandang sertifikasi World Athletics Gold Label (IDN Times, 2026). Di arena expo, 130 merek tampil bersama 49 UMKM lokal, sementara 250 komunitas warga menyemangati pelari di sepanjang koridor Sudirman–Gatot Subroto (Pemprov DKI Jakarta, 30/9/2026). Jalan protokol yang biasanya dipadati kendaraan berubah menjadi ruang publik milik warga.
Pertumbuhan ini bukan kebetulan. Ketua Umum PB PASI Luhut Binsar Pandjaitan menyebut peserta kategori maraton meningkat hingga tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya (Pemprov DKI Jakarta, 30/9/2026). Lari telah menjadi bagian dari gaya hidup warga kota, dan Jakarta berhasil mengemasnya menjadi agenda wisata olahraga berskala internasional. Gubernur Pramono bahkan menempatkan Jakarta sebagai "epicenter event dan sport tourism", seraya berharap gaung acara tetap terdengar di dunia hingga sepekan setelahnya. Konser Ye mewakili ekonomi tontonan global. Penontonnya membawa belanja hotel, kuliner, transportasi, dan hiburan, sekaligus membawa nama Jakarta ke linimasa media sosial di berbagai negara.
Sebelum acara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memproyeksikan perputaran ekonomi dari kedua acara melampaui Rp150 miliar (Kumparan, 25/10/2026). Realisasinya jauh melampaui proyeksi. Gubernur Pramono Anung menyebut dampak ekonomi kedua acara mencapai sekitar Rp625 miliar, terdiri atas Rp175 miliar dari JRF dan sekitar Rp450 miliar dari konser Ye, dengan penjualan tiket konser saja mencapai Rp328 miliar. “Walaupun saya pribadi meyakini pasti lebih dari ini,” ujarnya (detikcom, 26/10/2026). Gubernur Pramono menyebut hotel-hotel di sepanjang jalur lari telah habis dipesan (Antara, 1/10/2026). Sebagai perbandingan, sebelumnya konser The Weeknd dan festival Pestapora disebut menghasilkan perputaran hingga Rp250 miliar, dengan pajak dari konser The Weeknd saja sekitar Rp12 miliar (Antara, 21/10/2026). Multiplier effect-nya terasa dari pemilik hotel hingga pedagang kecil di sekitar Senayan.
Namun dampaknya tidak berhenti pada angka rupiah. Ada manfaat kesehatan ketika puluhan ribu warga berlatih berbulan-bulan untuk satu garis finis. Ada manfaat citra ketika ribuan wisatawan mancanegara pulang membawa cerita tentang Jakarta yang ramah dan aman. Ada pula manfaat sosial ketika ruang kota dinikmati bersama oleh warga dari berbagai latar belakang. Inilah multiplier effect yang sesungguhnya: ekonomi bergerak, warga lebih sehat, dan nama kota terangkat.
Bukan Kebetulan, Melainkan Momentum
Akhir pekan JRF dan konser Ye juga bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Sekitar tiga pekan sebelumnya, konser The Weeknd di Jakarta International Stadium digelar dua hari dengan masing-masing lebih dari 60.000 penonton, dan deretan konser internasional lain telah dijadwalkan dalam beberapa bulan ke depan (detikcom, 25/10/2026). Rangkaian ini menunjukkan bahwa kepercayaan promotor dan artis dunia terhadap Jakarta sedang tumbuh. Setiap event yang sukses menjadi referensi bagi event berikutnya, dan reputasi itulah aset kota yang paling berharga.
Ujian Infrastruktur yang Dijawab dengan Baik
Menggelar dua acara besar secara bersamaan di kawasan yang sama adalah ujian serius bagi tata kelola kota. Pemprov DKI menggratiskan MRT, LRT, Transjakarta, dan Transjabodetabek bagi peserta JRF yang mengenakan nomor dada resmi (Pemprov DKI Jakarta, 30/9/2026). MRT Jakarta bahkan beroperasi sejak pukul 03.00 WIB, dua jam lebih awal dari jadwal biasanya, agar pelari tiba tepat waktu (Republika, 23/10/2026). Sekitar 2.000 personel gabungan disiagakan untuk pengamanan konser (Kumparan, 25/10/2026). Persiapan bahkan menjangkau urusan cuaca: Pemprov menginstruksikan operasi modifikasi cuaca pada 22–25 Oktober bersama BMKG agar hujan turun sebelum hari pelaksanaan (IDN Times, 21/10/2026). Keberhasilan ini menunjukkan sesuatu yang sering luput dari perhatian: jaringan transportasi publik Jakarta yang terus tumbuh kini menjadi modal utama kota event. Pembenahan akses ke Jakarta International Stadium, dengan kantong parkir di Ancol yang terhubung layanan KRL (Antara, 21/10/2026), memperlihatkan bahwa pemerintah belajar dari setiap event dan terus memperbaikinya.
Jakarta di Peta Persaingan Kota Event
Di kawasan ini, kota-kota seperti Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur telah lama bersaing menjadi persinggahan tur dunia dan ajang olahraga internasional. Kali ini, penggemar dari Singapura dan Malaysia justru terbang ke Jakarta. Ini sinyal bahwa Jakarta mulai dilirik sebagai tuan rumah, bukan sekadar pasar penonton. Keunggulan Jakarta terletak pada skala. Kota ini mampu menghadirkan puluhan ribu penonton domestik sekaligus menarik penonton mancanegara. Ditambah jaringan transportasi yang membaik dan dukungan pemerintah daerah yang aktif, Jakarta memiliki modal kuat untuk menjadi pusat event di Asia Tenggara.
Catatan untuk Melangkah Lebih Jauh
Agar momentum ini tidak berhenti sebagai euforia satu akhir pekan, beberapa langkah layak dipertimbangkan. Pertama, ukur dampak secara terbuka. Angka Rp625 miliar yang disampaikan Gubernur adalah langkah awal yang baik. Ke depan, angka tersebut perlu dilengkapi rincian metodologi perhitungan dan data pendukung, seperti tingkat hunian hotel, transaksi pembayaran, kunjungan wisatawan mancanegara, dan penerimaan pajak daerah. Data yang dipublikasikan secara berkala akan memperkuat kepercayaan promotor dan investor.
Kedua, susun kalender event tahunan yang terintegrasi. Dengan peringatan 5 Abad Jakarta pada 2027, kota ini memiliki momentum emas untuk merancang agenda olahraga, musik, dan budaya yang tersebar sepanjang tahun, sehingga okupansi hotel dan pendapatan pelaku usaha lebih stabil. Setiap event juga perlu dipromosikan secara digital sebelum dan sesudah pelaksanaan, agar gaungnya menjadi promosi kota yang berkelanjutan.
Ketiga, perluas manfaat hingga ke kampung dan UMKM. Kehadiran 49 UMKM di expo JRF adalah awal yang baik. Ke depan, pelaku usaha di kampung-kampung sekitar venue dapat dilibatkan lebih luas, misalnya melalui paket kuliner dan wisata kota bagi penonton mancanegara.
Keempat, jadikan transportasi publik pilihan utama setiap event. Pengalaman JRF dapat dikembangkan menjadi skema terpadu tiket event dan transportasi publik, sehingga kepadatan lalu lintas dapat ditekan dan pengalaman pengunjung semakin nyaman.
Menuju Lima Abad sebagai Kota Dunia
Akhir pekan JRF dan konser Ye memperlihatkan wajah Jakarta yang percaya diri: kota yang mampu merangkul warganya untuk berlari bersama, sekaligus menyambut puluhan ribu tamu dari berbagai negara. Kekuatan ini lahir dari kombinasi infrastruktur yang terus membaik, kepemimpinan daerah yang aktif mendorong event, dan antusiasme warga yang luar biasa.
Menjelang usia lima abad, Jakarta tidak lagi cukup dikenal sebagai kota besar. Ia sedang membangun reputasi sebagai kota yang ingin dikunjungi dunia. Jika keberhasilan ini dirawat dengan data, perencanaan, dan pelibatan warga yang lebih luas, akhir pekan 24–25 Oktober 2026 dapat dikenang sebagai salah satu tonggak Jakarta menuju kota global.
Daftar Pustaka
Antara. (2026, 1 Oktober). Pram optimistis perputaran ekonomi saat JRF 2026 lebih dari Rp150 M. https://www.antaranews.com/berita/5766011/pram-optimistis-perputaran-ekonomi-saat-jrf-2026-lebih-dari-rp150-m
Antara. (2026, 21 Oktober). Pramono dorong Jakarta jadi pusat kegiatan untuk dongkrak ekonomi. https://www.antaranews.com/berita/5801505/pramono-dorong-jakarta-jadi-pusat-kegiatan-untuk-dongkrak-ekonomi
detikcom. (2026, 25 Oktober). Pramono senang konser Ye sedot 30 ribu turis asing: Dulu tak pernah begitu. https://news.detik.com/berita/d-8723364/pramono-senang-konser-ye-sedot-30-ribu-turis-asing-dulu-tak-pernah-begitu
detikcom. (2026, 26 Oktober). Pramono sebut JRF dan konser Ye hasilkan dampak ekonomi Rp625 M. https://news.detik.com/berita/d-8724154/pramono-sebut-jrf-dan-konser-ye-hasilkan-dampak-ekonomi-rp-625-m
IDN Times. (2026, 21 Oktober). Pramono instruksikan OMC jelang JRF dan konser YE, harus hujan. https://www.idntimes.com/news/indonesia/pramono-instruksikan-omc-jelang-jrf-dan-konser-ye-harus-hujan-00-481xk-mlbjd2
IDN Times. (2026). JRF 2026 diikuti 37.000 pelari dari 49 negara di Jakarta. https://www.idntimes.com/sport/arena/jrf-2026-hadirkan-37-000-peserta-dari-49-negara-ada-pelari-nasional-00-f411s-cdxgpf
Investortrust. (2025). 27.300 pelari meriahkan wondr Jakarta Running Festival 2025. https://investortrust.id/financial/83120/27300-pelari-meriahkan-wondr-jakarta-running-festival-2025-bukti-kolaborasi-bni-dorong-sports-tourism-nasional
Koran Jakarta. (2026, 25 Oktober). Ye guncang GBK Jakarta, puluhan ribu penggemar domestik dan mancanegara hadir. https://koran-jakarta.com/2026-10-25/ye-guncang-gbk-jakarta-puluhan-ribu-penggemar-domestik-dan-mancanegara-hadir
Kumparan. (2026, 25 Oktober). Pemprov DKI klaim konser Ye & JRF 2026 hasilkan perputaran uang hingga Rp150 M. https://kumparan.com/kumparannews/pemprov-dki-klaim-konser-ye-and-jrf-2026-hasilkan-perputaran-uang-hingga-rp-150-m-28RZMai4Ld4
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (2026, 30 September). MyBCA Jakarta Running Festival 2026 siap digelar 24–25 Oktober [Siaran pers]. https://www.jakarta.go.id/siaran-pers/7076-SP-HMS-09-2026
Republika. (2026, 23 Oktober). Peserta JRF gratis naik transportasi publik, MRT beroperasi mulai pukul 03.00 WIB. https://news.republika.co.id/berita/tnd7do484/peserta-jrf-gratis-naik-transports-publik-mrt-beroperasi-mulai-pukul-0300-wib
Sekretariat Kabinet RI. (2024). Pemerintah sahkan Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta. https://setkab.go.id/pemerintah-sahkan-undang-undang-daerah-khusus-jakarta